• Jelajahi

    Copyright © PRIMBON | PRIMBON ANDA HARI INI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Begini Seharusnya Kemasan Dupa Dan Tidak Berbahan Kimia

    PRIMBON
    Senin, 13 Juli 2020, 13:43 WIB Last Updated 2020-07-13T06:52:58Z

      Begini Seharusnya Kemasan Dupa Dan Tidak Berbahan Kimia

    Banyak sekali sarana yang digunakan umat Hindu dalam melaksanakan sembahyang. Sarana persembahyangan berasal dari dan merupakan isi alam semesta, ini berarti manusia menghaturkan suksemannig manah (terima kasih) atas berlimpah ruahnya anugerah dari Ida Sang Hyang Wisi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

    Jro Mangku Suardana (44), Pemangku Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, Senin (13/7) mengatakan, adapun sarana yang digunakan dalam persembahyangan ini pada dasarnya berupa material diantaranya seperti Bunga, Daun, Buah serta hasil bumi lainnya. Berikut ada sarana Air yang setelah dipuja menjadi Tirtha dan Dupa. Ketiga ini merupakan sarana pokok dalam pelaksanaan persembahyangan yang mempunyai fungsi masing-masing.

    Khususnya Dupa atau Hio adalah sebuah material yang mengeluarkan bau wangi aroma terapi dari proses pembakaran. Sesungguhnya banyak sarana upacara keagamaan yang menggunakan dupa bahkan dalam hal Usadha atau Pengobatan.

    Di era sekarang, Dupa dikemas dalam berbagai bentuk dan proses, tetapi dupa dapat terbagi menjadi Pembakaran Langsung dan Pembakaran Tidak Langsung tergantung dari budaya, tradisi dan rasa seseorang.

    "Sekarang banyak berjamuran tumbuh para pengerajin pembuat Dupa dan proses pembuatan Dupa di zaman sekarang adalah pengembangan dari budaya maupun tradisi. Ini menjadi fenomena yang luar biasa, karena dapat menghasilkan Dupa yang sangat bagus, namun sesungguhnya banyak terjadi kekeliruan atau salah kaprah dalam pengekemasannya, karena banyak sekali para pembuat Dupa ini menggunakan pengharum berbahan Kimia, sehingga ini jelas menyimpang dari makna Dupa sesungguhnya,"  jelas Jro Mangku Suar

    Menurutnya, hal terpenting yang harus dimaknai dalam Dupa adalah Api karena Api inilah yang akan menjadi perantara untuk menghubungkan antara Pemuja dengan yang Dipuja. Api disini dimaksudkan adalah Api Suci hingga inilah yang membuat Dupa kemudian dikemas supaya mengeluarkan harum-haruman dan aroma harum ini  diisyaratkan dapat membasmi segala Mala serta mampu mengusir Roh Jahat saat kita bersembahyang.

    "Jika kita pahami fungsi dan arti dupa dalam upacara persembahyangan yang dipimpin Pendeta punya arti sangat dalam. Dupa berasal dari Wisma yaitu alam semesta dan asapnya secara perlahan menyatu ke angkasa. Inilah sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju Sanghyang Widhi. Sementara itu, seorang Pemangku atau Pinandhita dalam memimpin upacara menggunakan api dalam bentuk Pasepan yang isinya adalah Menyan (Kemenyan), Majegau dan Cendana dibakar agar berasap dan berbau wangi. Adapun maknanya disini, dimana Kemenyan untuk memuja Dewa Siwa, Majegau untuk memuja Dewa Sada Siwa dan Cendana untuk memuja Parama Siwa. Disinilah Pemangku/Pinandita menggunakan Puja Seha sebagai medianya dan prihal Pasepan atau Asep sangat jelas terdengar pada bait Kidung Warga Sari yang biasa dikumandangkan pada upacara Panca Yajna 'Asep Menyan Majegau, Dendana nuhur Dewane, mangda Ide gelis rawuh, mijil sakeng luring langit, sampun madabdaban sami, maring giri meru reko, ancangan sadulur, sami pada ngiring'. Inilah sebagai permohonan agar para Dewa berkenan hadir dalam pemujaan. Sedangkan makna Dupa sebagai pembasmi segala kotoran tampak jelas pada persembahyangan sehari hari melalui mantram 'Ong Ang Dipastraya Namah Svaha' berarti mohon disucikan diri atas sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa," papar Jro Mangku Suar.

    Jro Mangku Suar yang juga menjabat sebagai Sabha Walaka PHDI Kabupaten Jembrana ini menambahkannya, Api juga sebagai Saksi Upacara dalam kehidupan dan asapnya sebagai lambang Gerakan Rohani ke angkasa sebagai stana para Dewa serta keharumanya menjadi isyarat penyucian sebagai Sarira Sang Hyang Agni (Yang Maha Melihat) perbuatan manusia. Umat Hindu meyakini ini, seperti apa yang tersurat dalam Lontar Siwa Gama dijelaskan saat rapat para Dewa di Sorga yang dipimpin oleh Dewa Siwa, ketika itu hadir pula Dewa Surya, oleh karena penampilan Dewa Surya sangat simpatik maka Dewa Siwa menganugrahkan tugas agar mewakili dirinya di dunia yaitu sebagai Saksi Alam Semesta dan pada saat itu pula Dewa Siwa bergelar Siwa Raditya. Selanjutnya, Dewa Surya kemudian berguru kepada Dewa Siwa sehingga diberi nama Batara Guru. Sementara itu, pada Lontar Siwa Gama disebutkan bahwa Matahari sebagai ciptaan Tuhan dan Saksi di dunia, maka dari konsepsi ini merupakan dasar setiap upacara Panca Yajna selalu dibuatkan Sanggar Surya mengarah dimana matahari terbit sebagai stana Siwa Raditya.

    "Maka sekali lagi saya berharap kepada para pengerajin pembuat Dupa dimanapun berada, agar jangan menggunakan pewangi Dupa dari bahan Kimia, karena ini akan menjadi sia-sia sebab sesunggunya yang bermakna itu adalah Api, Kemenyan, Majagau dan Cendana. Gunakan serbuk dari bahan dimaksud sehingga Dupa berbau wangi secara alami dan menjadi sarana yang tepat dalam persembahyangan. Disamping itu, sarana berbahan Kimia itu adalah sangat berbahaya yang secara langsung maupun tidak langsung bisa akan meracuni para Pendeta dan Pinandita bahkan diri kita sendiri," tegas Jro Mangku Suar.

    Hal ini sebelumya juga disampaikan oleh Ketua PHDI Kabupaten Jembrana, I Komang Arsana juga menghimbau, selain tidak menggunakan sarana berbahan Kimia, hendaknya para pengerajin pembuat Dupa juga tidak menggunakan gambar-gambar atau atribut para Dewa.

    "Ini akan menjadi sangat riskan, karena para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah unsur-unsur yang disucikan oleh Umat Hindu, maka apabila digunakan sebagai pembungkus Dupa nantinya bisa menjadi pemicu permasalahan SARA". Ini jangan sampai terjadi, sebab misalkan pembungkus Dupa yang sudah tidak digunakan kemudian terbuang secara sembarang lalu diinjak baik secara sengaja maupun tidak, terlebih oleh umat lain, ini jelas bisa menjadi pemicu permasalahan atas dugaan penistaan atapun pelecehan. Maka sebaiknya Dupa dikemas dengan bungkus yang selain menggunakan gambar beserta atribut dari apa yang disucikan Umat Hindu,"  jelasnya.

    Sementara itu Iwan Pranajaya, Pengurus Harian PHDI Provinsi Bali Bidang Budaya & Kearifan Lokal saat dihubungi via telephone mengatakan bahwa Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebenarnya sudah memberikan himbauan agar produksi Dhupa hendaknya berbahan dan dikemas Ramah Lingkungan.

    "Nanti akan kami coba sarankan lagi kepada Ketua PHDI Provinsi Bali agar bisa dibahas dalam rapat terkait perkembangan produksi Dupa ini, jika perlu setidaknya ada perizinan sampai ke PHDI," jelas Iwan Pranajaya.

    Disisi lain, Jro Mangku Widiana alias Mangku Tamtam (46) seorang pengerajin pembuat Dhupa merk Gandewa asal Jembrana menjelaskan mengatakan bahwa selama menjadi pengerajin pembuat Dupa dirinya selalu mengikuti ketentuan dari pihak-pihak berwenang.

    "Dulu kami memang sempat mengkemas Dupa dengan gambar-gambar para Dewa, tetapi kini setelah ada himbauan dan memahami akan arti dan makna Dupa sesunggunhya, sedari itu kami berupaya untuk berbenah dan astungkara Dupa yang kami produksi akhirnya bisa diterima oleh Umat dan menjadi bermakna baik secara Sekala maupun Niskala," kata Mangku Tamtam. (MD/R-01)
    Komentar

    Tampilkan

    PRIMBON TERBARU